Showing posts with label jenis ukiran. Show all posts
Showing posts with label jenis ukiran. Show all posts

Tuesday, May 17, 2016

Legenda Seni Ukir Jepara



Legenda Seni Ukir Jepara

Kabupaten Jepara terkenal dengan ukiran kayu para pengrajinnya. Ukiran ini mereka namakan dengan istilah ukiran Jeporonan, yang bermakna ukiran dan meubel dari Jepara.
              
Ukiran dan kerajinan Jepara memang khas dan diminati konsumen, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Namun tahukah Anda kemahiran pengrajin Jepara ini konon berhubungan dengan sebuah cerita legenda yang menyertainya.
         
Terkait asal-usul seni ukir Jepara, banyak beragam mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat. Berikut legenda asal-usul seni ukir yang berkembang di Jepara.
Dikisahkan Raja Brawijaya (Raja Majapahit terakhir) sedang berjalan-jalan ke sebuah desa. Karena lelah, ia lalu beristirahat di rumah seorang mantri lurah jagal, punggawa rendahan Istana Majapahit. Punggawa itu punya anak perempuan yang sudah menjanda. Wajah janda ini amat elok dan cantik sekali hingga Prabu Brawijaya terpikat dan ingin menggaulinya. Akhirnya, si janda ini mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang amat tampan dan diberi nama Jaka Prabangkara.
Prabu Brawijaya amat gembira melihat anaknya yang tampan itu, apalagi setelah tahu kalau anaknya ini pandai sekali melukis. Maka, Jaka Prabangkara diminta untuk melukis permaisurinya yang amat dicintainya yaitu Putri Cempa.
Lukisan permaisuri yang dilukis tanpa busana itu dapat diselesaikan oleh Prabangkara dengan sempurna persis seperti aslinya. Namun hal ini membuat Raja Brawijaya menjadi curiga, karena pada bagian tubuh tertentu dan rahasia terdapat tanda alami/khusus yang terdapat pula pada lukisan serta tempatnya/posisi dan bentuknya persis. Jaka Prabangkara berdalih jika titik hitam di lukisan yang terdapat di sekitar kemaluannya ini terjadi karena tetesan tinta yang jatuh tanpa sengaja.
Namun, Prabu Brawijaya tidak percaya. Ia menuduh Jaka Prabangkara yang tampan itu telah menggauli permaisurinya yang cantik jelita itu hingga ia tahu kalau di sekitar kemaluannya ada titik hitam.
Maka murkalah sang Prabu dan berencana untuk membunuh Jaka Prabangkara. Namun, sang patih Gajah Mada mencoba menahan amarahnya dan mohon agar anak ini jangan dibunuh. Sebab, bagaimanapun ia adalah anaknya sendiri.
Maka disiapkanlah serangkaian strategi untuk mengusir si anak dari Majapahit. Prabu Brawijaya suatu kali meminta Jaka Prabangkara untuk melukis seluruh isi dan kejadian di langit, misalnya matahari, rembulan, bintang, halilintar, pelangi, petir dan cahaya angkasa yang warna-warni. Maka dipersiapkanlah sebuah kurungan besar lengkap dengan segala perbekalan dan sebuah layang-layang besar. Jaka Prabangkara diminta untuk masuk ke kurungan itu dan diterbangkan dengan layang-layang besar itu. Setelah layang-layang terbang ke angkasa diputus talinya. Dalam keadaan melayang-layang inilah pahat Prabangkara jatuh di suatu desa di dekat kota Jepara.

Dari balik kawasan gunung inilah, menurut cerita legenda, seni ukir Jepara mulai berkembang dan terus maju hingga populer seperti sekarang ini.  Di desa kecil tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.
Namanya juga legenda, cerita yang berkembang di masyarakat….

Motif Ukiran Khas Jepara


MOTIF UKIRAN KHAS JEPARA

Ukiran adalah kerajinan utama dari kota Jepara.Yang dimaksud disini adalah ukiran yang berasal dari kayu yang bisa berasal dari kayu jati, mahoni, sengon dan lain-lain. Di kota Jepara hampir di seluruh kecamatan mempunyai mebel dan ukir kayu sesuai dengan keahliannya sendiri-sendiri. Hasil dari kerajinan ukir jepara bisa bermacam-macam bentuk mulai dari motif patung, motif daun, relief dan lain-lain.
               
Ukiran dari kayu di Jepara ini untuk produksinya ada tempat-tempat yang lekat dengan para ahli pahat ukir jepara sebagai centre of production yaitu di Desa Mulyoharjo untuk pusat kerjinan ukir dan patung Jepara. Sedangkan untuk Kerajinan ukir berbentuk Relief terletak di desa Senenan dekat Rumah sakit Kartini Senenan. Di Desa Kecapi sebagai pusat produksi lemari, dengan bermacam-macam motifnya. Sementara itu kerajinan gebyok terpusat di desa Tahunan.

BENTUK DAN MOTIF UKIRAN JEPARA

Ukiran Jepara mempunyai ciri khas yang menunjukkan bahwa ukiran itu asli dari Jepara atau tidak.Salah satu ciri khas yang terkandung didalamnya adalah bentuk corak dan motif.Untuk motif sendiri bisa kita lihat dari : Daun Trubusan yang terdiri dari dua macam yaitu dilihat dari yang keluar daritangkai relung dan yang keluar dari cabang atau ruasnya.
               
Ukiran asli Jepara juga terlihat dari motif Jumbai atau ujung relung dimana daunnya seperti kipas yang sedang terbuka yang pada ujung daun tersebut meruncing.Dan juga ada buah tiga atau empat biji keluar dari pangkal daun.Selain itu,tangkai relungnya memutar dengan gaya memenjang dan menjalar membentuk cabang-cabang kecil yang mengisi ruang atau memperindah.

Ciri-ciri Khas diatas sudah cukup mewakili sebagai identitas ukiran Jepara. Bentuk motif ukiran tersebut ada juga yang oleh para ahli pahat disisipkan di berbagai alat rumah tangga seperti contoh tempat tidur atau yang sering disebut dipan, di kursi atau meja yang diberikan ukiran khas Jepara, juga yang lain misal figura foto yang diberi khas Jepara dengan ukiran.